Tuesday, February 21, 2012

Cancer



Cancer
Classification and external resources

A coronal CT scan showing a malignant mesothelioma
Legend: → tumor ←, ★ central pleural effusion, 1 & 3 lungs, 2 spine, 4 ribs, 5 aorta, 6 spleen, 7 & 8 kidneys, 9 liver.
ICD-10 D00
ICD-9 140—239
DiseasesDB 28843
MedlinePlus 001289
MeSH D009369

Cancer /ˈkænsər/ ( listen), known medically as a malignant neoplasm, is a broad group of various diseases, all involving unregulated cell growth. In cancer, cells divide and grow uncontrollably, forming malignant tumors, and invade nearby parts of the body. The cancer may also spread to more distant parts of the body through the lymphatic system or bloodstream. Not all tumors are cancerous. Benign tumors do not grow uncontrollably, do not invade neighboring tissues, and do not spread throughout the body.

Determining what causes cancer is complex. Many things are known to increase the risk of cancer, including tobacco use, certain infections, radiation, lack of physical activity, poor diet and obesity, and environmental pollutants.[1] These can directly damage genes or combine with existing genetic faults within cells to cause the disease.[2] Approximately five to ten percent of cancers are entirely hereditary.

Cancer can be detected in a number of ways, including the presence of certain signs and symptoms, screening tests, or medical imaging. Once a possible cancer is detected it is diagnosed by microscopic examination of a tissue sample. Cancer is usually treated with chemotherapy, radiation therapy and surgery. The chances of surviving the disease vary greatly by the type and location of the cancer and the extent of disease at the start of treatment. While cancer can affect people of all ages, and a few types of cancer are more common in children, the risk of developing cancer generally increases with age. In 2007, cancer caused about 13% of all human deaths worldwide (7.9 million). Rates are rising as more people live to an old age and as mass lifestyle changes occur in the developing world.

Tuesday, November 1, 2011

Kanker5


Miso Soup Might Help Lower Breast Cancer Risk
Deskripsi:
Image Hosted by ImageShack.us


Udah jadi kebiasaan disini kalau menjelang musim dingin..fall/winter buat org jepang untuk menyantap miso soup ini...
menurut breast cancer org. kandungan yg terdapat dalam soyabean dapat mencegah kanker payudara...menurut survey breast cancer yg terlemah/terkecil itu adanya diasia..karena mayoritas org asia menkonsumsi soyabean...selamat coba ya..bikin badan hangat and bye-bye breast cancer....:)


sumber :http://www.breastcancer.org/research_diet_061803.html

Bahan-bahan:
-2 sendok makan miso
-1/2 bungkus dashi(yg udah jadi aja ya)
-air kira2 ukuran 3 mangkok saji
-wakame(kalau buat sayuran) dan daun bawang(kalau buat seafood)
-1 sdt soyu
-200 gram kerang *juga pakai yg lain sepertikepala ikan apa aja,sayuran(toge,tahu,lobak,wortel..semua sayuran ok aja buat miso soup)

Petunjuk
Rebus kerang dalam air mendidih sampai kerang terbuka..agak lama ya....angkat/buang buih2 yg mundul dr kerang...setelah itu masukan dashi.
matikan api sebentar masukan miso yg diaduk2 sampai rata lalu soyu.
lalu nyalakan kembali api sedang dan masukan dan bawang...miso soup siap disantap.

kenapa harus matikan api ketika memasukan miso...gw jg kurang tau :) tapi katanya nenek2 yg ajarin dulu...itu rahasia bikin miso soup yg enak...pas masukin miso apinya dimatikan...jangan lupa yaaaa...

Kanker4


One patient's result. These pictures were taken before and after the Breast Cancer treatment with Hyperthermia, combined with low radiation dose. Alternative cancer treatment, alternative breast cancer treatment, alternative prostate cancer treatment.

Pictures of Breast cancer patients treated with Hyperthermia and very low radiation dose (means very low side effects and that the body can easily recover by it self without toxic medications) :

Hyperthermia Breast Cancer Treatment: Before treatment, 10·09·91

Before Treatment.jpg (12562 bytes)

Hyperthermia Breast Cancer Treatment:

After treatment, 12·04·91

After Treatment.jpg (13073 bytes)

Hyperthermia Breast Cancer Treatment:

After treatment, 02·25·92

After Treatment.jpg (11207 bytes)


Kanker3


Delima, Penumpas Kanker Payudara

Buah yang merah cantik dan segar ini memang sedang populer. Rasanya asam segar dengan semburat manis plus aroma yang wangi. Sebagai sumber antioksidan yang tinggi, delima bisa menangkal radikal bebas. Selain itu juga berkhasiat melawan banyak penyakit!

Delima atau yang dikenal dengan pomegranate dan produk olahannya kaya akan antioksidan polyphenols, seperti tannin dan anthocyanin. Jika membutuhkan kandungan antioksidan dalam porsi besar, maka delima adalah pilihan yang tepat. Kandungan antioksidan jus delima tiga kali lebih banyak dibanding red wine atau bahkan teh hijau.

Delima (punica granatum), pohonnya bisa mencapai tinggi hingga 5-8 m. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Iran, dan telah lama dikembangbiakkan di daerah Mediterania. Bangsa Moor memberi nama salah satu kota kuno di Spanyol, Granada berdasarkan nama buah ini. Tanaman ini juga banyak ditanam di daerah Cina Selatan dan Asia Tenggara.

Delima ada tiga macam, yaitu delima putih, merah, dan ungu. Para penelitian menemukan pada jus delima terdapat adanya bahan – bahan tertentu yang dapat menghambat penggerakan sel kanker dan melemahkan pengaruh protein yang diproduksi oleh tulang sumsum yang beresiko munculnya kanker prostat dan menyebar ke tulang.

Tidak hanya itu saja manfaat yang didapat, mengkonsumsi buah delima juga dapat mengurangi resiko mencegah dan memperlambat pertumbuhan beberapa tipe kanker payudara. Sebab Ellagitannins yang terkandung di dalamnya mampu menghambat pertumbuhan kanker payudara yang berupa estrogen responsif.

“Fitokimianya menekan produksi estrogen sehingga mencegah perbanyakan sel-sel kanker dan pertumbuhan tumor yang berupa estrogen responsif,” tutur tim peneliti di University of California-Riverside, seperti dikutip situs healthkey. Ellagitannins pada buah delima bekerja dengan cara menghambat aromatase (enzim kunci yang digunakan tubuh untuk membuat estrogen dan berperan penting dalam pertumbuhan kanker payudara).

Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh American Journal of Clinical Nutrition, buah delima kaya antioksidan ini bisa mencegah oksidasi LDL atau kolesterol jahat dalam tubuh. Selain itu khasiat buah delima bagi kesehatan antara lain dapat mencegah penyakit seperti: gangguan perut, gangguan jantung, kanker, perawatan gigi, reumatik, kurang darah dan diabetes.

Sementara itu jika meminum jus delima 3 kali atau lebih dalam seminggu, dapat menurunkan resiko terkena alzheimer hingga 76% dibandingkan orang yang tidak minum jus sama sekali.



Kanker2


Penyebab terjadinya Kanker Payudara

Belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya kanker payudara. Namunterdapat banyak faktor yang diperkirakan mempengaruhi terjadinya kanker payudara. Yaitu :

Faktor risiko :

  1. Faktor reproduksi.Terjadinya nuliparitas, menarche pada wanita berusia muda, terjadinya menopause dan kehamilan pertama pada wanita berusia tua.
  2. Penggunaan hormon. Harvard School of Public Health melaporkan bahwa terdapat para pengguna terapi estrogen replacement mengalami peningkatan terjadinya kanker payudara.
  3. Memiliki penyakit fibrokistik.
  4. Obesitas atau kegemukan.
  5. Konsumsi lemak.
  6. Radiasi ionisasi yang terjadi selama atau sesudah pubertas dapat meningkatkan terjadinya resiko kanker payudara.

Faktor genetik :

Selain faktor-faktor diatas kanker payudara juga bisa disebabkan oleh faktor genetik atau faktor keturunan. Yaitu adanya mutasi pada beberapa gen yang dapat memicu terjadinya kanker payudara. Yaitu gen yang bersifat onkogen dan gen yang bersifat mensupresi tumor. Diantaranya adalah gen BRCA2 dan BRCA1.

Pencegahan kanker payudara

  1. Pencegahan primer. Merupakan promosi kesehatan yang sehat. Yaitu melalui upaya menghindarkan diri dari Faktor Risiko diatas serta melakukan pola hidup sehat. Termasuk juga dengan pemeriksaan payudara sendiei alias SADARI.
  2. Pencegahan sekunder dilakukan pada wanita yang memiliki risiko terkena kanker payudara. Yaitu dengan melakukan deteksi dini dengan via skrining mammografi yang diklaim memiliki 90% akurat. Skrining berlaku untuk wanita usia 40 tahun keatas, wanita yang harus rujuk skrining setiap tahun dan wanita normal yang harus rujuk skrining tiap 2 tahun sekali hingga usia 50 tahun.
  3. Pencegahan tertier dilakukan pada wanita yang positif menderita kanker payudara. Ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup serta mencegah komplikasi penyakit. Bisa berupa operasi, kemoterapi sitostatika. Pada stadium tertentu hanya berupa simptomatik dan pengobatan alternatif.

Pengobatan kanker payudara.

Pengobatan kanker

  1. Mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Baik pengangkatan total payudara dan benjolak di ketiak, pengankatan payudara saja maupun pengangkatan sebagian pada bagian yang terdapat kanker saja.
  2. Radiasi yaitu proses penyinaran dengan sinar X dan sinar gamma pada bagian yang terkena kanker. Ini berfungsi untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa setelah operasi.
  3. Kemoterapi yaitu pemberian obat-obatan anti kanker. Baik obat dalam bentuk pil cair/kapsul maupun melalui infus untuk membunuh sel kanker.

Henah cukup jelas bukan sedikit info tentang kanker payudara diatas. Dengan begini kita terutama kaum wanita jadi lebih menjaga diri dan kesehatan. Untuk info lebih lanjut seputar kanker payudara ini bisa hubungi dokter terdekat.

Kanker1


Kanker Payudara - Sudah sering mendengar nama ini kan kawan? so pasti. Karena nama ini sangat tidak asing ditelinga kita. Mendengar nama Kanker yang terdapat dalam pikiran kita tentu saja sebuah nama penyakit yang sangat berbahaya dan mengerikan? Momok mengerikan sama halnya dengan Kanker Serviks.

Menurut om Wikipedia.org, Kanker Payudara adalah kanker yang terjadi pada jaringan payudara. Kanker jenis ini umumnya terjadi pada kaum hawa. Meski kaum adam juga bisa terkena namun sangat kecil kemungkinannya. Pengobatan yang dilakukan untuk Kanker Payudara ini adalah dengan pembedahan. Dilanjutkan dengan kemoterapi maupun radiasi.

kanker payudara

click to zoom : Kanker Payudara

Gejala, ciri-ciri, dan tanda Kanker Payudara

Gejala klinis terjadinya Kanker Payudara yang umum terjadi adalah sebagai berikut :

  1. Benjolan kecil pada payudara.Benjolan ini biasanya tidak nyeri dan ukuranya kecil. Tapi lama-lama membesar dan menempel pada kulit serta menimbulkan perubahan warna pada puting dan atau payudara.
  2. Eksema atau erosi pada puting.Selanjutya, kulit atau puting tertarik kedalam (retraksi), warna pink atau kecoklatan sampai menjadi oedema yang menyebabkan menjadi seperti kulit jeruk, mengkerut dan menjadi borok. Borok membesar dan mendalam hingga bisa merusak payudara. Busuk dan berdarah. Ciri-ciri lainnya adalah terjadinya pendarahan pada puting. Sakit/nyeri bila tumor sudah besar dan timbul borok. Kemudian timbul pembesaran pada ketiak yaitu kelenjar getah bening, terjadi pembekakan pada lengan. Kemudian terjadi penyebaran kanker ke seluruh tubuh.Kanker payudara tingkat lanjut sangat mudah diketahui. Yaitu adanya pada kulit payudara yang cukup luas, serta ada nodul satelit. Adanya edema pada lengan, metastase jauh, terjadi ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi. Adanya kelenjar getah bening aksila.
  3. Nipple discharge atau keluarnya cairan.Gejala yang ktiga adalah keluarnya cairan yang tidak wajar dan spontan dari putih atau yang disebut dengan nipple discharge. Kenapa cairan ini dikatakan tidak normal, tidak lain karena cairan normal hanya keluar pada ibu hamil, sedang menyusui atau yang memakai pil kontrasepsi.Ciri cairan ini, cairan berdarah encer, warna merah atau coklat, keluar sendiri tanpa dipijit. Keluar dengan terus menerus pada satu payudara. Bagi anda yang mengalami ciri-ciri ini harus waspada dan segera periksa ke dokter untuk mencegah kanker makin parah.
kanker payudara 2_5

click to zoom : kanker payudara stadium 4

HIV20



Rendahnya sistem kekebalan tubuh orang yang terjangkit HIV menyebabkan mereka lebih rentan terkena tujuh jenis kanker. Meski begitu, diagnosis dan terapi sejak awal bisa menunda ancaman kanker tersebut.

Para peneliti dari Perancis menguji data dari tiga jenis kanker yang terkait dengan AIDS (Kaposi sarcoma, non-Hodgkin's lymphoma, dan kanker serviks), serta empat kanker yang tidak terkait dengan AIDS (Hodgkin's lymphoma, kanker paru, kanker hati, dan kanker anal) pada 52.278 orang yang terinfeksi HIV.

Peneliti dalam studi tersebut juga menganalisa kaitan antara defisiensi kekebalan tubuh, jumlah virus, terapi antiviral, serta timbulnya kanker. Secara umum, berkurangnya kekebalan tubuh meningkatkan risiko kanker. Jumlah sel CD4 (jumlah CD4 mencerminkan kesehatan sistem kekebalan tubuh) merupakan faktor yang bisa memprediksi seluruh risiko kanker, kecuali kanker anal. Menurut catatan peneliti, kaitan antara risiko kanker dengan jumlah virus lebih rendah daripada kurangnya kekebalan tubuh.


Jumlah CD4 merupakan satu-satunya faktor risiko yang memprediksi Hodgnkin's lymphoma, kanker paru dan kanker hati. Meningkatnya risiko Kaposi sarcoma dan non-Hodgkin's lymphoma juga berkaitan dengan rendahnya jumlah CD4, tingginya jumlah virus HIV dan kombinasi terapi antiretroviral (cART).

Sementara itu jumlah CD4 yang tinggi berkaitan dengan rendahnya risiko kanker serviks. Risiko kanker anal meningkat bila jumlah CD4 kurang dari 200 sel per mikroliter dan jumlah virus lebih dari 100.000 per mililiter. Demikian menurut studi yang dipublikasikan dalam The Lancet Oncology.

"cART lebih bermanfaat untuk memperbaiki bila jumlah CD4 di atas 500 sel per mikroliter, hal ini mengindikasikan diagnosis awal infeksi HIV dan perlunya terapi sejak awal," kata para peneliti. Selain itu para peneliti juga merekomendasikan pentingnya program skrining kanker untuk pasien HIV, terutama skrining kanker serviks untuk wanita yang positif HIV.